Rabu, 13 Agustus 2008

Degradasi Peran dan Fungsi Pemuda

“Lebih baik musna dari pada didjadjah. Lebih baik mati tergilas oleh pertempuran daripada hidup menjerah serta ditahan oleh tentara imperialis djahanam”
(Ungkapan kemarahan para pemuda saat revolusi kemerdekaan 1945 dalam buku Dokumentasi Pemuda, Sekitar Proklamasi Indonesia Merdeka, Badan Penerangan Pusat SBPI, 1948)

Para pemuda adalah pejuang-pejuang yang istiqamah (konsisten). Sejak menyadari dirinya dijajah, dari situlah semangat untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan menyala-nyala. Perjuangan pemuda yang terdesentralisasi di daerah-daerah, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan lain-lain, akhirnya bersatu dalam satu kesatuan melalui sumpah suci yang dikenal dengan “Sumpah Pemuda 1928”.

Meskipun serupa dalam semangatnya untuk menyatukan Nusantara, Sumpah Pemuda berbeda dengan Sumpah Palapa yang diucapkan Mahapatih Gadjah Mada, apalagi sumpah “gombal” para penguasa. Sumpah Palapa menempatkan Kerajaan Majapahit sebagai pusat; Sumpah Pemuda ingin menyatu, membangun persatuan dalam nafas kebebasan, persaudaraan dan kesetaraan; bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia. Sedangkan sumpah penguasa diniatkan untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda merupakan penopang utama pencapaian kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Hingga kini sumpah suci itu telah berusia 79 tahun (usia yang cukup lanjut untuk sebuah kematangan hidup). Setiap tahun kita peringati sebagai wujud apresiasi terhadap perjuangan para pemuda. Namun, peringatan tersebut hanya sebatas seremonial belaka. Dalam suatu kesempatan diskusi dengan Dr. Faisal Basri, Chief of Advisory Board Indonesia Research Anda Strategic Analysis (IRSA) mengungkapkan, bangsa ini lupa bekerja dan diam seribu bahasa. Padahal sebagaimana yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kita harus sadari, para pejuang (termasuk di dalamnya para pemuda) hanya mengantarkan rakyat Indonesia ke alam kemerdekaan. Selanjutnya, kita yang mengisinya bukan sekadar merayakannya.

Pemuda yang Terdegradasi
Rusman Ghazali, Dosen FISIP dan Peneliti PPM Universitas Nasional (UNAS) serta Peneliti Institute for Public Trust Jakarta dalam tulisannya Memberi Makna (Lain) Sumpah Pemuda (Kompas, 28/10/2003) mengungkapkan, kini Sumpah Pemuda tidak terselamatkan oleh pemuda itu sendiri dalam peran dan fungsinya mengisi pembangunan kebangsaan Indonesia. Nilai sejarah perjuangan kepemudaan kita selama ini dalam mengisi kemerdekaan dengan ide dan gagasan pembangunan cemerlang mengalami kelangkaan di tengah pusaran politik kapitalisme. Pemuda sebagai tulang punggung bangsa tidak berhasil meletakkan nilai perjuangan menjadi mobil cita-cita rakyat Indonesia. Tidak berhasil menyesuaikan diri dengan tuntutan jaman (tuntutan rakyat), justru kemudian terjebak dalam arus politik pembangunan yang menjauh dari kehendak rakyat.

Posisi pemuda yang mulia sebagai tulang punggung bangsa seharusnya menjadi kendaraan hati nurani rakyat. Artinya, tantangan terbesar dari perjuangan kebangsaan kita sekarang ini adalah menghapus penjajahan bangsa dan negara oleh bangsa kita sendiri dalam bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Inilah yang tidak diaktualisasi optimal oleh pemuda-pemudi ketika mereka berinteraksi dengan kekuasaan dan kelompok-kelompok kepentingan politik.

It’s fact! penulis sendiri sebagai generasi muda menyadari peran dan fungsi pemuda dirasakan semakin terdegradasi. Mereka ditengarai ditumpangi banyak “ide pragmatisme” yang meluluhlantakan idealisme. Selain itu, serbuan kapitalisme dalam wujud 3F (food, fashion, and film) membuat kaum muda tergiring ke dalam dunia konsumerisme dan materialisme. Akibatnya, eksistensi peran dan fungsi pemuda sangat rapuh untuk berhadapan dengan sistem politik negara yang korup, mereka terperangkap untuk mengusung isu-isu yang tidak populer dan kemudian cenderung memperkuat sistem korup yang berlangsung.

Banyak hal yang menunjuk ke arah itu. Pemuda masuk dalam organisasi politik, birokrasi negara, dan dunia usaha justru larut dalam praktik korup, tidak berdaya berhadapan dengan arus KKN yang serba canggih. Idealisme mereka luntur oleh hantaman badai realisme dan pragmatisme. Organisasi pemuda tak lebih dari sekadar jembatan politik bagi pemuda untuk masuk dalam jaringan elit penyelenggaraan negara. Padahal organisasi kepemudaan merupakan sarana perjuangan yang strategis sebagaimana yang dilakukan oleh para pemuda tempo doeloe.

Organisasi Kepemudaan
Dalam buku Dokumentasi Pemuda, Sekitar Proklamasi Indonesia Merdeka, (Badan Penerangan Pusat SBPI, 1948) yang ditulis (sebagian besar) oleh DN. Aidit, Lagiono, Wikana, dan Mustapha diceritakan kegiatan para pemuda di wilayah Jakarta. Separuh buku tersebut menggambarkan sepak terjang pemuda di Jawah Tengah Selatan dan Jawa Timur, khususnya Surabaya.

Di bawah pendudukan Jepang diperoleh gambaran para pemuda aktif membangun “Gerakan Bawah Tanah” dengan cara menyelundup ke dalam organisasi-organisasi bentukan Jepang, seperti Heiho, Peta, Seinendan, Kaigun, Barisan Pelopor, bahkan Kenpetai (Polisi Rahasia Jepang). Di wilayah Jakarta, tercatat beberapa organisasi yang aktif menentang pemerintahan fasis Jepang, yaitu Gerakan Pemuda Gerindo (Gerindo), Gerakan Indonesia Merdeka (Gerindom), dan Barisan Angkatan Pemuda Indonesia (API).

Dalam bukunya, Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistence, 1944-1946, terbitan Cornell University Press, 1972, maupun dari edisi bahasa Indonesianya, Revolusi Pemuda terbitan Sinar Harapan, 1988, Ben Anderson menguraikan, “Organisasi-organisasi pemuda yang terbentuk di masa pendudukan adalah hasil dari situasi krisis. Lembaga itu bukanlah sebuah jejak untuk menapaki karir atau bagian dari proses siklus kehidupan. Organisasi-organisasi itu diciptakan bagi satu momen sejarah ke depan, yaitu sejarah terbentuknya sebuah bangsa”.

Jadi, organisasi kepemudaan merupakan media penghimpun rasa solidaritas, persaudaraan, persatuan dan kesatuan, serta kekuatan massa bukan saja untuk menghadapi kekuatan asing di Tanah Air, tetapi juga untuk sebuah cita-cita akan negeri yang baru, yang merdeka dan bebas dari segala bentuk penindasan. Jika para pemuda masa kini mampu meneladani dan menjadikan organisasi kepemudaan sebagai media strategis perjuangan demi kepentingan bangsa dan negara. Maka barangkali benar pernyataan Soekarno bahwa “di tangan pemudalah terletak masa depan bangsa Indonesia”.

Harian Radar Banten, 29 Oktober 2007

Tidak ada komentar: